Menakar Peluang Gatot Nurmantyo


Menakar Peluang Gatot Nurmantyo

SIPerubahan – Sebagai warga negara Indonesia tentunya kamu pernah bermimpi menjadi Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesia. Baik warga sipil maupun kalangan militer tentu boleh bermimpi menjadi orang nomor satu atau nomer dua negeri ini. Tak terkecuali Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, yang namanya akhir-akhir ini masuk sebagai orang yang layak menjadi calon presiden (Capres) atau wakil presiden (Cawapres) dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Jabatan Gatot Nurmantyo, pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 57 tahun lalu, ini yaitu mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia. Di militer, semua tentara harus hormat kepadanya. Di pemerintahan, Gatot hanya perlu menghormat kepada panglima tertinggi dalam hal ini Presiden RI yang saat ini dipegang Joko Widodo. Sebagai Panglima TNI, Gatot harus imun dari urusan politik. Fokus pengabdiannya yakni kepada bangsa dan negara.

Pilpres 2019 pun sudah mendekati masanya, dimana nama Jokowi tetap menjadi primadona dalam berbagai survei. Tapi, ada satu nama penantang Jokowi yang sempat meredup beberapa pekan terakhir namun saat ini kembali mencuat. Ya, penantang Jokowi ini berasal dari kalangan militer yang masih aktif dan berpotensi menyaingi Jokowi di Pilpres 2019.

Orang itu adalah Jenderal Gatot Nurmantyo. Sebelum purnatugas sebagai Panglima TNI, Gatot memang sudah diwacanakan menjadi calon presiden (capres) atau cawapres. Apalagi Gatot memiliki kedekatan dengan tokoh dan organisasi Islam. Gatot pun telah punya modal awal untuk mencalonkan diri sebagai Presiden. Apalagi ketika Gatot purnatugas sebagai Panglima TNI, tawaran masuk partai politik sudah mengantri, tapi Gatot tak mengindahkan hal tersebut. 

Namun demikian, beda dulu, beda sekarang. Kini Gatot sudah terang – terangan siap mengajukan diri sebagai capres maupun cawapres. Kalau dilihat dari bahasanya sih, kayaknya udah yakin banget. Bila negara memanggil, Gatot pun siap untuk berjuang.  Tapi ada pertimbangan khusus bagi Gatot, karena belum tentu partai politik yang dulu sempat menawarkan Gatot masih tertarik. Pada umumnya sudah merapat ke Jokowi. 

Apabila Jenderal Gatot ikut serta dalam Pilpres 2019 tentunya akan memberi warna serta suasana baru dalam dunia politik Tanah Air. Suasana semakin menarik jika Gatot disandingkan dengan Romy atau tokoh lain. Karena selama ini hanya ada dua sosok yang bertarung dalam Pilpres yakni Jokowi dan Prabowo. Dengan keikutsertaan Gatot dan Romy pasti menjadi pilihan alternatif bagi pemilih Indonesia.

Sementara itu di tempat dan kesempatan yang berbeda, pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai positif hasil jajak pendapat yang dilakukan DPP Partai Bulan Bintang (PBB). Terutama terkait hasil yang menempatkan elektabilitas Yusril Ihza Mahendra yang coba dipasangkan dengan Gatot Nurmantyo, paling tinggi dibanding nama-nama lain yang berpotensi sebagai pasangan calon presiden 2019 mendatang.

“Saya kira malah pasangan Yusril-Gatot bisa menjadi kuda hitam pada Pilpres 2019 mendatang. Karena sekarang ini kan yang disebut-sebut baru ada dua calon kuat, Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto,” ujar Ujang. 

Meski begitu, Ujang menilai ada tantangan besar jika nantinya Yusril-Gatot maju secara berpasangan. Paling tidak dari segi dukungan partai politik.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini kembali melanjutkan, bahwa setelah pensiun nanti Gatot tidak mungkin akan hanya diam dan menghabisi masa tuanya bersama keluarga. Dia menduga Gatot akan bergabung ke partai politik yang sangat identik dengan militer.

Menurut Ujang, Gatot akan memilih dua partai yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, dan Prabowo S‎ubianto di dalam Gerindra. "Saya rasa dua partai itu akan dipilih Gatot, dan itu sangat rasional," katanya.

Jenderal Gatot Jadi Pendamping Jokowi

Berita mengejutkan justru datang dari mantan ketua DPR RI Setya Novanto. Setnov mengusulkan agar Jendral Gatot Nurmantyo menjadi calon wakil presiden (Cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

Menurut Setnov, Gatot merupakan sosok yang sangat bagus untuk disandingkan dengan Jokowi di pesta demokrasi 2019.  Situasi sekarang memang (cawapres Jokowi) belum terlihat Tapi, Pak Jokowi tentu akan melihat hal-hal yang mendasar, salah satunya figur Gatot yang mumpuni. 

Setnov menilai Gatot  bisa bekerjasama dengan kalangan sipil maupun militer. Namun, Setnov menyebutkan semua keputusan untuk menentukan pendampingnya ada di tangan ‎Jokowi.

Sebagaimana sebelumnya, PDIP sendiri sudah resmi mengusung kembali Jokowi sebagai bakal calon Presiden 2019. ‎Tapi, PDIP belum menentukan siapa calon yang akan mendampingi Jokowi di 2019.

Di sisi berbeda, berdasarkan survei Alvara Research Center, elektabilitas Jokowi mencapai 46,1 persen, unggul dari Prabowo yang hanya 26,5 persen. Alvara juga menyatakan banyak responden yang memilih Jendral Gatot sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi. 

Berdasarkan survei Alvara, sebanyak 61,9 persen responden menyatakan setuju bila Jokowi menggandeng Gatot Nurmantyo yang merupakan mantan Panglima TNI. Sisanya, 38,1 persen menyatakan tidak setuju.

"Mayoritas responden menyatakan setuju jika dalam Pilres 2019 Jokowi berpasangan dengan Gatot Nurmantyo," ujar CEO Alvara Hasanuddin Ali di Jakarta, belum lama ini.  

Popularitas Gatot Tinggi

Gatot Nurmantyo dianggap menjadi salah satu tokoh yang potensial dalam perhelatan Pilpres 2019 mendatang padahal namanya sama sekali tidak pernah terdengar saat pilpres 2014 lalu. Bersama Jokowi dan Prabowo yang kemungkinan (pasti) akan menjadi mencalonkan diri sebagai calon presiden, Gatot Nurmantyo muncul diantara mereka berdua. 

Gatot bisa jadi pendamping salah satu diantara Jokowi atau Prabowo, tetapi tidak menutup kemungkinan jika Gatot akan menjadi pihak ketiga yang muncul diantara Jokowi dan Prabowo.

Popularitas seorang Gatot dinilai sangat tinggi apalagi dalam momentum yang tepat sebab tahun 2018 nanti dirinya akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Panglima TNI. Artinya, Gatot akan pensiun dari TNI dan akan kembali menjadi warga sipil sehingga dirinya bebas dari "politik praktis". Dengan demikian, tidak ada lagi beban "mengingkari amanah" jika dirinya benar-benar ingin mencalonkan diri di perhelatan 2019 nanti. Bagaimana dengan PDI-P? 

Jokowi jugalah yang mengangkat dan melantik Jenderal Gatot sebagai Panglima TNI pada 2015 lalu. Kedekatan secara psikologis bukan tidak mungkin membuat Gatot menjatuhkan pilihannya kepada PDI-P atau setidaknya jika berkarier di partai lain, dirinya kemungkinan besar akan didaulat menjadi pendamping Jokowi di 2019 nanti.

Semua harapan kemungkinan-kemungkinan d iatas bukanlah suatu kepastian, hanya Gatot dan Tuhanlah yang tahu ke partai apa nantinya seorang Gatot akan menjatuhkan pilihannya. Tapi yang pasti, Gatot ibarat magnet bagi partai politik untuk menentukan masa depan politiknya. 

Popularitas dan elektabilitasnya yang dipandang sudah besar jelas menjadi tanggung jawab politik untuk menentukan masa depan bangsa ini sebab nama Gatot Nurmantyo bukan hanya sekedar nama biasa, tetapi sudah dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Masalah siapa yang akan memimpin negara ini di 2019, biarkan rakyat yang tetap memilih sesuai dengan nuraninya.

Singapura Dukung Jenderal Gatot

Ilmuwan terkemuka Indonesia, Deliar Noer  yang merupakan orang Indonesia pertama yang meraih gelar Ph.D dalam ilmu politik (1963) di Cornell University, Amerika Serikat ketika memberi kuliah di Program Pasca Sarjana Universitas Nasional tahun 1980-an, menyatakan bahwa pertemuan seseorang yang mempunyai kedudukan penting dengan pihak lain selalu mempunyai makna politik.

Sebagaimana diberitakan berbagai media bahwa sejak 04 Maret 2018 Jenderal TNI Gatot Nurmantyo  berada di Singapura.  Dia diterima dengan perlakuan istimewa oleh pemerintah Singapura. Setidaknya ada empat indikator untuk memastikan bahwa Jenderal Gatot diperlakukan istimewa oleh pemerintah Singapura.

Pertama, Presiden Singapura Halimah Yakob di Istana Negara Singapura memberi  penghargaan ‘Distinguished Service Order’ kepada Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang dalam bahasa Melayu disebut Darjah Utama Bakti Cemerlang. Kedua, Perdana Menteri Singapura MR. Lee Hsien Loong mengadakan pertemuan dengan Jenderal Gatot. Padahal Jenderal Gatot Nurmantyo bukan lagi sebagai Panglima TNI.

Ketiga, Jenderal TNI Gatot diterima secara resmi oleh Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen. Keempat,  Jenderal TNI Gatot diterima secara resmi oleh Panglima Angkatan Bersenjata Singapura Perry Lim.  Meskipun disebutkan sebagai pertemuan perpisahan, tetapi tetap dianggap istimewa sebab Jenderal Gatot sudah tidak menjabat sebagai  Panglima TNI.

Penerimaan pemerintah Singapura terhadap Jenderal TNI Gatot yang tergolong istimewa, menarik jika dikaitkan dengan kuliah Prof Dr Deliar Noer, yang dalam dunia politik dan diplomasi, pasti mempunyai makna politik.

Selanjutnya, ada tiga faktor yang bisa dimaknai dari penerimaan pemerintah Singapura yang tergolong istimewa terhadap  Jenderal TNI Gatot. Pertama,  pemerintah Singapura berkomitmen terus menjaga hubungan baik dengan Indonesia. Jenderal Gatot sebagai salah satu putera terbaik Indonesia penting diberi apresiasi dalam rangka menjaga, memelihara dan merawat hubungan baik antara Indonesia dengan Singapura. Maka Jenderal Gatot walaupun sudah mengakhiri masa baktinya sebagai Panglima TNI, tetap diberi perlakuan istimewa.

Kedua,  pemerintah Singapura sudah mendapat informasi dari intelijen bahwa tahun 2019  merupakan pemilihan presiden serta wakil presiden. Dan, salah satu  kandidat potensial presiden RI yaitu Jenderal TNI Gatot. Ketiga, penerimaan yang tergolong istimewa kepada  Jenderal Gatot bisa dimaknai bahwa Singapura memberi dukungan jika kelak dicalonkan Jenderal Gatot menjadi capres atau cawapres RI.  

Sinyal tersebut tidak boleh hanya melihat Singapura, namun juga Amerika Serikat dan Tiongkok yang secara politik, bisnis, sosiologis  dan historis memberi dukungan kepada Singapura. Selain itu, para konglomerat yang selama ini berkolaborasi dalam bisnis serta menyimpan dana mereka di negara itu.

Dalam dunia yang begitu terbuka, intervensi kepentingan selalu terjadi.  Di Negeri Paman Sam saja sebagai kampiunnya demokrasi, ribut sampai saat ini adanya dugaan Rusia terlibat terpilihnya Donald Trump.

Di Tanah Air, ada dugaan bahwa  para pengusaha besar tidak nyaman dalam berusaha karena banyaknya protes dari umat Islam yang puncaknya aksi 212,  dan tidak  ada solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi,  Kondisi demikian terkoneksi dengan kepentingan  Singapura.

Oleh karena para pengusaha besar memerlukan stabilitas keamanan di Indonesia untuk jangka panjang.  Pada tataran itu, dugaan saya sebagai sosiolog mereka memerlukan figur alternatif yang dekat dan dipercaya umat Islam yang bisa memberi solusi terhadap umat Islam supaya stabilitas bisa diwujudkan dengan baik supaya mereka nyaman dalam berusaha.

Boleh dikatakan, Jenderal Gatot dikenal tegas dengan didukung berbagai kelompok Muslim serta dicitrakan memberi  pembelaan terhadap kaum  Muslim baik langsung maupun tidak langsung. Sayangnya realita yang dihadapi bahwa Jenderal Gatot tidak punya partai politik. Pada hal untuk mengusung pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden harus ada gabungan partai politik yang mendukung.

Apakah nantinya akan ada satu partai yang akan mendukung Jenderal Gatot menjadi Capres atau Cawapres 2019. Apakah akan menjadi kenyataan, sangat dipengaruhi dinamika sosial ekonomi dan politik menjelang pencalonan Presiden dan Wakil Presiden mendatang. Kita tunggu saja ya guys…….


 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus