Lebih Mengenal Pilkada Paling Strategis di Indonesia

Comments 75 Views Views


Lebih Mengenal Pilkada Paling Strategis di Indonesia

SIPerubahan - Pemilihan Gubernur Jawa Barat dianggap sebagai pilkada strategis. Hal itu disebabkan, selain mempunyai jumlah pemilih terbesar di Tanah Air, Pilgub Jabar juga dinilai penting dalam strategi politik nasional, baik pemilihan legislatif (Pileg) maupun pemilihan presiden (PIlpres) 2019 mendatang.

Tak mengherankan jika setiap partai politik memunculkan nama-nama terbaik untuk bersaing memperebutkan kursi kepala daerah Jabar.

Berbeda dengan Pilgub Jabar 2013, kali ini tidak ada calon perseorangan. Seluruh calon gubernur diusung partai politik meski ada yang bukan dari kader partai. Berikut empat pasangan calon yang mengikuti Pilgub Jabar 2018.

Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum

Ridwan Kamil adalah yang pertama menyatakan maju menjadi kepala daerah Jabar. Eksistensinya ditandai dengan deklarasi dukungan dari Partai Nasdem pada 19 Maret 2017 lalu.

Setelah itu, dinamika seputar Ridwan Kamil terus berkembang mulai dari pemenuhan syarat minimal kursi untuk pencalonan hingga sosok wakil yang akan mendampinginya. Menjelang pembukaan pendaftaran bakal calon kepala daerah Jabar, Ridwan memilih Uu Ruzhanul Ulum sebagai pendampingnya.

Pasangan calon yang menyebut diri mereka “Rindu” ini seringkali menyampaikan sebagai pasangan yang saling melengkapi lantaran masing-masing memiliki pengalaman memimpin kota serta desa.

Ridwan-Uu mengusung slogan “Rindu Jabar Juara”. Keduanya memiliki visi untuk menghadirkan Jawa Barat juara lahir batin yang memiliki manusia beriman, bahagia dan berkualitas dan membangun ekonomi yang berdaya saing. Mereka juga akan mewujudkan pembangunan Jabar yang berkelanjutan, merata, dan sejahtera di desa maupun kota, serta menerapkan tata kelola pemerintahan yang baik.

Beberapa program yang akan diterapkan Ridwan-Uu misalnya pengembangan desa tematik, penguatan peran pertanian dan perikanan sebagai kekuatan ekonomi, mendorong penerapan ekonomi berbasis syariah, serta meningkatkan mata rantai industri besar-menengah-kecil dan membuka lapangan kerja baru.

Tubagus Hasanuddin dan Anton Charilyan

Sebagai Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Tubagus Hasanuddin memang memiliki kans besar untuk dicalonkan sebagai gubernur. Bahkan, partainya memiliki jumlah minimal kursi sebagai syarat mengajukan calon. Ia kemudian dipasangkan dengan mantan Kapolda Jabar, Anton Charliyan.

Tubagus Hasanuddin-Anton Charilyan menyebut diri mereka “Hasanah” kependekan dari Hasanuddin-Anton amanah. Keduanya mempunyai sejumlah program dengan nama-nama berbahasa sunda yang sederhana.

Di bidang ketenagakerjaan, pasangan Hasanah memiliki program ‘Boga Gawe’. Program ini dirancang untuk menciptakan lapangan kerja serta sebagai sarana untuk memperjuangkan hak-hak buruh.

Tak hanya itu, ada juga program Imah Rempeg dengan uang muka (down payment) satu persen yang menyasar kalangan masyarakat menengah ke bawah. Rencananya, perumahan tersebut akan dibangun menggunakan aset pemerintah yang tersebar di ribuan titik di wilayah Jabar.

Program prioritas lainnya yang ditawarkan Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan yaitu “Jabar Seubeuh”. Program ini bertujuan menciptakan ketahanan pangan di wilayah Jabar yang juga meliputi pemberian bantuan modal bagi para petani.

Sudrajat dan Ahmad Syaikhu

Pencalonan Sudrajat sebagai calon Gubernur Jabar dianggap mengejutkan semua pihak. Alasannya, nama tokoh Jabar tersebut tidak terlalu ramai dibincangkan dalam bursa pencalonan. Namun demikian, Sudrajat dinilai mampu menjadi kuda hitam di Pilgub Jabar 2018.

Sedangkan, Ahmad Syaikhu dinilai dapat menjadi sosok penerus Ahmad Heryawan, yang masa jabatannya sebagai gubernur akan berakhir pada 2018 mendatang. Pasangan calon yang menyebut diri mereka “Asyik” ini berencana ingin Jawa Barat menjadi yang termaju, religius, aman, dan sejahtera.

Dalam beberapa kesempatan, Sudrajat memaparkan akan melanjutkan beberapa program Ahmad Heryawan seperti Citarum Bersih. Menurut ia, polusi di Citarum harus diatasi agar tidak memberikan dampak negatif yang lebih besar kepada warga setempat.

Di samping itu, pasangan Asyik juga memiliki program utama lainnya, yaitu membuat Jabar terkoneksi sehingga setiap desa memiliki akses internet dan diharapkan mampu mendorong perekonomian kreatif.

Sudrajat-Ahmad Syaikhu juga ingin memberdayakan pesantren, petani, serta nelayan dengan membangun berbagai infrastruktur yang akan mendorong tumbuhnya penopang ekonomi Jabar tersebut.

Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi

Sebagai petahana, Deddy Mizwar dinilai bakal mudah melenggang untuk mencalonkan diri kembali. Tapi dalam perjalanan, ia pernah mengalami hambatan karena Partai Keadilan Sejahtera yang semula mendukungnya kemudian menarik dukungan.

Senada dengan Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi juga mengalami pengalaman yang hampir serupa. Sebagai Bupati Purwakarta sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi awalnya tidak mendapat rekomendasi dari partai. Setelah melalui berbagai dinamika, keduanya kemudian dipasangkan, didukung koalisi Partai Golkar dan Demokrat.

Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi memiliki lima misi besar untuk memajukan Jabar yakni dengan melakukan reformasi birokrasi, mewujudkan sumber daya manusia berkualitas, mengelola tata ruang, infrastruktur, dan lingkungan, mengembangkan potensi dan daya saing daerah, serta menata kehidupan sosial.

Kemudian Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi juga menyoroti soal kebijakan anggaran yang seharusnya berbasis wilayah berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah sehingga menghasilkan tranparansi yang berkeadilan.

Tidak hanya itu, pasangan calon nomor urut empat itu memiliki program yang terangkum dalam sembilan janji, yakni penyediaan air baku, penyediaan listrik, penyediaan pangan, pembenahan bidang pendidikan, pemberdayaan angkatan kerja, dan pembangunan puskesmas rawat inap dan penyediaan tenaga medis berdasarkan kebutuhan daerah.

Janji lainnya yakni pertumbuhan ekonomi dengan mendorong daya saing melalui pariwisata berbasis budaya, serta pengelolaan tata ruang, lingkungan hidup, dan infrastruktur termasuk rehabilitasi rumah tidak layak huni. (Foto: Kompas)

Post a Comments
blog comments powered by Disqus