Menarik! Filosofi ‘Film Dilan’ Cak Imin Menuju Cawapres

Comments 21 Views Views


Menarik! Filosofi ‘Film Dilan’ Cak Imin Menuju Cawapres

SIPerubahan - Ada sosok menarik di antara politisi kita saat ini. Ketika para pimpinan partai politik menunggu kapan dirinya dipinang oleh Joko Widodo untuk menjadi pendampingnya, hal menarik justru dilakukan oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Ya, Cak Imin dengan penuh percaya diri mendeklarasikan dirinya menjadi calon wakil presiden untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Padahal, hampir tak pernah ada deklarasi cawapres tetapi belum ada pasangannya. Kecuali, deklarasi capres yang tinggal menunggu pasangannya.

Langkah Cak Imin ini sebenarnya terbilang langka. Hal itu disebabkan lantaran baru pertama kali dalam sejarah politik di Tanah Air, ada salah satu pimpinan parpol yang mendeklarasikan dirinya sebagai cawapres, bukan capres.

Bila yang diharapkan Cak Imin agar Jokowi kelak memilih dirinya sebagai cawapres, sepertinya PKB mem-fait accompli parpol pendukung Jokowi agar mereka juga mempertimbangkan Cak Imin untuk menjadi pendamping Jokowi di Pilpres 2019.

Cak Imin sepertinya merasa kedekatan Jokowi dengan ormas Nahdlatul Ulama (NU), akan lebih mempertimbangkan calon pendampingnya juga dari kalangan NU, dan PKB yang merupakan satu-satunya parpol yang representatif bagi warga Nahdliyyin. Selain itu, Cak Imin juga mengingatkan Jokowi agar tak salah memilih cawapres, karena jika salah, dirinya bisa kalah, sebagaimana pernyataannya di beberapa program acara stasiun TV nasional.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan ekspektasi Cak Imin bisa menjadi cawapres Jokowi nanti, hanya saja kesan terburu-buru dan prinsip jangan sampai keduluan orang lain, tentunya menjadi dasar pertimbangan dirinya. Bukan tidak mungkin, perjalanan Jokowi ke Pondok Pesantren Kempek, Cirebon Jawa Barat beberapa waktu yang lalu, dan tampak akrab dengan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy, juga memiliki kesan politis sendiri bagi Cak Imin. Romi - panggilan akrab Romahurmuziy- juga merupakan kader NU dan sepertinya terus melakukan pendekatan kepada Jokowi agar dirinya juga berkesempatan dilirik Jokowi mendampinginya di Pilpres 2019 mendatang.

Kedekatan Jokowi dengan kalangan NU melalui kunjungannya yang begitu intensif ke berbagai pesantren, tampak menjadi ajang rebutan oleh para kader NU untuk menyodorkan diri mereka sebagai sosok yang paling layak menjadi pendamping Jokowi.

Bahkan, baru-baru ini dukungan terhadap Cak Imin untuk maju sebagai cawapres 2019 terus mengalir. Bagi kader PKB, Cak Imin cawapres adalah harga mati. Hal itu disampaikan oleh Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Malang, KH Hamim Kholili.

Kiai Kholili menganggap, bahwa Cak Imin adalah sosok yang ideal untuk mendapingi Presiden Joko Widodo yang hendak mencalonkan diri di periode yang kedua. "Cak Imin Cawapres RI 2019, sudah jadi harga mati bagi kami. Apapun yang terjadi nantinya. Idealnya harus mendampingi Pak Jokowi," kata Kiai Hamim, Minggu (08/04/2018).

Kiai ramah itu menganggap, Cak Imin adalah politisi ‘zaman now’. Selain mewakili mayoritas warga NU, Cak Imin juga dianggap mewakili generasi milenial."Cak Imin sangat mewakili generasi milenial, paham betul kondisi zaman now. Ke-Islaman dan kenegaraannya tak diragukan lagi. Di mana para ulama sangat mendukungnya," katanya.

Kiai Hamim pun menganggap, Cak Imin cocok jika berpasangan dengan Jokowi untuk merepresentasikan pasangan nasionalis religius. "Rumusan yang sangat ideal dan tepat untuk membangun Indonesia ke depannya," ungkapnya.

Tetapi, bila Cak Imin tidak mendapatkan peluang untuk bersanding dengan Jokowi, Hamim meminta supaya Cak Imin mencari poros politik yang lain. Jika memungkinkan, ia pun meminta Cak Imin maju sebagai Calon Presiden (Capres) dengan membangun koalisi dengan partai yang lain.

"Kader PKB, warga NU dan ulama NU sudah bulat dan solid siap mengusung Cak Imin menjadi Cawapres 2019. Jika pun ada perubahan, tidak bersama Pak Jokowi, harus rela berada dalam politik berbeda," jelasnya lagi.

Berikutnya, para santri yang berasal dari pesantren, seperti terus diistimewakan, bahkan diberi kesempatan khusus dalam banyak hal di luar identitas kesantriannya yang mempelajari nilai-nilai agama Islam. Baru-baru ini, Kementerian Perhubungan membuka beasiswa bagi para santri untuk menjadi calon penerbang (pilot) sebagai apresiasi pemerintahan Jokowi terhadap dunia pesantren.

NU dan pesantren tampaknya semakin lekat dengan dunia politik, hingga politik dalam tataran praksis, di mana para santri semakin digiring untuk menduduki maupun mempromosikan dirinya dalam jabatan-jabatan struktural serta strategis yang bersifat politis.

Kunjungan-kunjungan resmi kenegaraan yang dilakukan Jokowi ke banyak daerah di seluruh pelosok negeri, tak luput dari persinggahannya dengan mengunjungi berbagai pesantren. "Setiap ke daerah, saya selalu berkunjung ke pesantren, entah satu, dua, atau tiga, untuk melihat langsung problem-problem yang sering disampaikan para pemimpin pondok pesantren, para kiai,” ujar Jokowi.

Keinginan Cak Imin agar menjadi calon pendamping Jokowi, juga terkait dengan kenyataan bahwa Jokowi sedang melakukan penjaringan kandidat cawapres yang berasal dari luar kader parpol. Banyak kader nonparpol yang berasal dari dunia pesantren - dan tentu saja warga NU - yang kemungkinan besar akan dilirik Jokowi untuk menjadi pendampingnya di Pilpres mendatang.

Tentu saja, Jokowi pasti akan mempertimbangkan banyak hal, terutama dipastikan akan menggandeng kalangan Islam moderat untuk menjadi cawapresnya, meskipun kandidat yang dipilihnya yaitu berasal dari luar parpol pengusung. Tak menutup kemungkinan, kunjungan Jokowi ke pesantren-pesantren NU, bertemu para kiai dan berdialog soal masalah-masalah kebangsaan, menjadi salah satu penjajakan dirinya mengetahui sejauh mana dukungan dunia pesantren terhadap pencalonannya kelak.

Sudah menjadi suatu tradisi di NU, di mana setiap kadernya yang akan maju menjadi kandidat dalam suatu kontestasi politik, akan terlebih dahulu meminta pertimbangan para kiai. Namun, dalam deklarasinya sebagai cawapres, Cak Imin nampaknya tak perlu berlama-lama menunggu restu para kiai NU, karena pada akhirnya Jokowi-lah yang nanti akan meminta restu para kiai NU dan Cak Imin sudah secara otomatis akan direstui.

Dari hal di atas, Cak Imin seakan sedang menganut filosofi ‘Film Dilan’ yang diubah maknanya, "Jangan jadi presiden, presiden itu berat, kamu gak akan kuat", tentu saja sulit bagi Cak Imin untuk langsung mendeklarasikan dirinya sebagai capres dengan tentu saja banyak pertimbangan politik, termasuk prsentase presidential treshold yang tidak memenuhi syarat, sehingga cawapres tampaknya secara kalkulasi politik, tampak lebih masuk akal.

Sebagai warga NU, Cak Imin juga percaya dengan kaidah ushul fiqh yang sedemikian terkenal dalam budaya politik NU. “Ma laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu" (jika tidak bisa meraih semuanya, jangan tinggalkan semuanya). Dengan konsep ini, Cak Imin tak ingin melepaskan begitu saja kesempatan untuk meraih kekuasaan politik lebih besar, apalagi Jokowi dipandang sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan kalangan NU dan juga pesantren.

Lalu, NU pun tak mungkin meraih semuanya untuk bisa menjadi presiden, tetapi minimal dapat memperoleh sebagiannya (menjadi cawapres), mengingat elektabilitas Jokowi di antara kandidat capres lainnya tampak lebih moncer. Melakukan pendeklarasian lebih dulu yakni langkah taktis Cak Imin untuk meyakinkan pihak lain, bahwa yang paling siap menjadi cawapres adalah dirinya.

Jokowi memang sudah seharusnya tidak salah dalam memilih siapa kandidat cawapresnya nanti, karena salah memilih bisa dipastikan kekalahan telak bagi Jokowi. Pasca pendeklarasian Cak Imin sebagai cawapres, bisa saja kemungkinan akan ada kandidat lain yang segera menyusul, entah mendeklarasikan sebagai cawapres, bahkan juga capres.

Pilpres 2019 memang semakin menarik, terutama banyak kandidat alternatif yang mencoba menawarkan dirinya sebagai calon pemimpin masa depan di luar dua kandidat yang telah lebih dahulu populer, “Jokowi dan Prabowo”.

Terakhir, bangsa ini tentu saja merindukan pemimpin yang dapat mengambil simpati rakyat, berjuang bersama rakyat dan mengangkat kesejahteraan mereka. Bukan sekadar tokoh politik yang mementingkan kelompok dan golongannya apalagi hanya melampiaskan ambisi kekuasaannya di tengah maraknya kecenderungan ke arah pragmatisme. Bravo Cak Imin!

Post a Comments
blog comments powered by Disqus