Pertaruhan Politik “Sang King Maker” di Pileg 2019

Comments 122 Views Views


Pertaruhan Politik “Sang King Maker” di Pileg 2019

Ibarat seorang kaisar demikian terpesona seperti pakaian. Kaisar kaya raya ini mempunyai banyak baju, pakaian yang tak pernah bisa dimiliki oleh orang kebanyakan. Namun sang kaisar merasa hidupnya kurang sempurna. Ia masih ingin memiliki satu pakaian paripurna, yang hanya dimiliki olehnya, yang hanya dipakai olehnya, pakaian adiluhung yang akan membuatnya sempurna sebagai penguasa.

Sang kaisar akhirnya bertemu dengan orang-orang dengan moral bengkok yang menjanjikan pakaian paripurna. Sang kaisar yang begitu gandrung akan pakaian, dibisiki imaji tentang pakaian yang agung. Busana yang tak bisa dilihat oleh orang-orang-orang dungu, maling, dan jahat. Maka sang kaisar meminta orang dengan moral bengkok itu untuk membuat pakaian adiluhung tersebut. Kita tahu bagaimana kisah “Baju Baru Sang Kaisar” ini berakhir.

Tidak ada yang salah dari menginginkan pakaian bagus. Sebagai penguasa, sebagai kaisar, dan sebagai orang dengan harta yang banyak, ia berhak punya apa pun yang ia mau. Seperti juga keinginan untuk jadi penguasa. Menjadi presiden merupakan hak. Siapa pun berhak untuk menjalin hidup sebaik-baiknya sebagai warga negara, sebagai penguasa, atau sebagai manusia. Kuncinya yaitu hak asasi manusia. Sesuatu yang mungkin bagi banyak orang tidak penting, tapi kalau butuh bakal merengek.

Dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) Gerindra yang digelar di rumah Prabowo di Hambalang, Bogor Jawa Barat, belum lama ini, Prabowo Subianto resmi diumumkan maju sebagai capres. Apakah ini salah? Ya tentunya tidak. Itu hak konstitusional Prabowo sebagai warga negara Indonesia (WNI), dimana ia berhak dicalonkan serta mencalonkan diri sebagai presiden. Meski kita tahu, ini bukan yang pertama kali Prabowo masuk bursa calon presiden.

Di Indonesia, nama Prabowo barangkali adalah alegori sempurna yang bisa menggambarkan sosok kaisar. Ia punya segalanya, nyaris terlalu kaya bila dibandingkan 26,58 juta orang Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ambisi politik merupakan sesuatu yang dibentuk, ia tak pernah benar-benar lahir dari keinginan asli. Seseorang ingin jadi presiden karena ingin mengubah negara menjadi lebih baik, yang lain seperti Trump, dorongan orang-orang dengan moral bengkok.

Tidak seperti kaisar yang dikelilingi oleh orang dengan moral bengkok, saya percaya Prabowo dikelilingi orang-orang yang cerdas dan berbudi baik. Mereka yang tahu kapan waktunya berhenti, mengambil jeda, dan membiarkan politik sektarian yang kepalang megerikan ini mereda. Saya yakin orang-orang PKS, PAN, dan Gerindra punya komitmen serius terhadap persatuan. Mereka yang menolak menggunakan isu SARA dalam kampanya dan mereka yang menolak melakukan seruan kebencian untuk mencapai tujuan.

Budaya Paternalistik

Prabowo selama beberapa tahun terakhir bersama partai koalisinya menjadi pihak yang berada di luar pemerintahan era Presiden Jokowi. Koalisi Prabowo secara perlahan sedikit demi sedikit tergerus oleh kekuatan penguasa. Golkar yang dahulu sebagai teman sejawat, kemudian beralih menjadi pendukung Presiden Jokowi. Kepentingan masa depan dan pragmatisme memang menjadi bagian dari partai politik, tidak ada yang abadi, semua mudah dicairkan.

Pasca ikut dalam pilpres 2014, Prabowo walau kalah nampak mampu membangun Gerindra menjadi parpol nasionalis yang mampu menyaingi Golkar sebagai partai senior. Di Tanah Air, parpol banyak tergantung kepada kekuatan pemimpinnya sebagai patron. Hal itu disebabkan karena masih berlakunya budaya paternalistik. Kemungkinan hanya PKS yang kadernya tidak terlalu tergantung kepada pemimpinnya. Prabowo kini menjadi salah satu patron, disamping Megawati dan SBY.

Saat Prabowo sudah diberi mandat partainya untuk maju sebagai capres. Meski begitu, belum tentu 100 persen Prabowo akan mendeklarasikan diri sebagai capres, tapi ada sisi yang jelas disembunyikannya dan benar-benar harus diwaspadai lawan politiknya. Masih ada sekitar empat bulan dalam kubu Jokowi dalam menentukan cawapresnya. Berbeda jelas strateginya, melawan Prabowo atau tokoh atau pemain pengganti.

Keputusan akhir hanya ditangan Prabowo sebagai patron, siapa orang Gerindra yang berani membantahnya. Diperkirakan, Prabowo akan mengukur dinamika politik dari sisi intel taktis yakni Kekuatan, Kemampuan dan Kerawanan.

Kekuatan, Kemampuan, Kerawanan

Sebagai mantan militer yang memiliki wawasan ilmu intelijen, pertama Prabowo akan menilai dari sisi kekuatan, seberapa besar kekuatan yang akan mendukungnya, berupa besarnya dukungan publik, baik dari kalangan nasionalis, kaum muslim dan mereka yang non muslim, serta etnis China dan Arab.

Secara demografis kini komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh usia muda  produktif yang mayoritas beragama Islam. Aksi Bela Islam memunculkan fenomena baru menyatunya berbagai harakah (gerakan) Islam yang sebelumnya tidak pernah bisa menyatu. Aksi 212 jelas mencengangkan sebagai fenomena baru dimana agama secara masif menyentuh politik.

Prabowo akan mengukur, dan menunggu kepastian seberapa besar Presidium Alumni 212 yang kini ribut, namanya menjadi Persaudaraan Alumni 212  akan menjadi kekuatannya. Selain itu Prabowo juga akan mengukur pandangan rakyat terhadap dirinya, yang mana dalam era demokrasi menjadi presiden yaitu mandat dari rakyat.

Di era digital kekuasaan itu bukan kepemilikan (owning), tapi berbagi (sharing), menjadi milik bersama. Semua itu belum dimilikinya dengan penuh keyakinan, baru sebatas pemahaman. Sedangkan, Jokowi sebagai petahana, lebih bebas dan selangkah lebih maju dalam menatanya.

Kemudian yang akan diukur oleh Prabowo yaitu kemampuan. Hal yang paling dominan untuk bersaing yakni soal kesehatan dan dukungan logistik, yang mana dua hal ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan Prabowo untuk menang. 

Elektabilitas Jokowi sebagai petahana sudah cukup tinggi. Karena itu, melihat strategi Pilkada DKI sudah dimainkan, kalau tidak bisa menyaingi petahana maka turunkan elektabilitasnya, kalau mampu luruhkan, agar terjadi keseimbangan.

Berikutnya, masalah kerawanan, di mana pada masa lalu Prabowo memiliki kerawanan di saat pemerintahan Gus Dur, sehingga terpaksa mengungsi ke Yordania. Meskipun Pilpres 2014 kerawanan itu dapat dinetralisir, sebagai manusia jelas Prabowo sadar dia memiliki kelemahan dalam bentuk kerawanan.

Prabowo paham benar bahwa pasti ada bocornya rencana,  gerakan dan ucapannya yang sudah dimiliki lawan politiknya akan menjadikan dirinya  tersandera. Bila kerawanan tersebut dibuka ke publik akan menyebabkan kelumpuhan permanen. Hanya dua tokoh yang  paham masalah ini yaitu Prabowo dan Jokowi.

Pengganti Prabowo?

Banyak masyarakat yang bertanya bila Prabowo tidak maju, siapakah calon yang akan diusung koalisi Gerindra?

Ada beberapa calon yang mulai mencuat ke permukaan. Survei Poltracking yang dilakukan dalam kurun waktu 27 Januari-3 Februari 2018, elektabilitas Jokowi paling tinggi dalam simulasi tiga nama capres yaitu mencapai 57,9 persen saat dihadapkan dengan Prabowo (31,5 persen), dan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (2,3 persen).

Sementara, survei Indo Barometer yang dirilis di  Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis 15 Februari 2018, apabila Prabowo tidak maju,  Anies menjadi lawan terberat Jokowi dengan elektabilitas 12,1 persen. Di bawah Anies adalah mantan Panglima TNI  Gatot Nurmantyo (7,8 persen) dan Agus Harimurti Yudhoyono (5,3 persen).

Sedikit melihat bahasa tubuh dan apa yang disampaikan Prabowo beberapa waktu terakhir, dia pernah memgatakan bahwa tahun 2030 Indonesia bubar. Jelas ini agenda politik, mungkin maksudnya, pada Pilpres 2019 agar rakyat memilih presiden yang paham geopolitik serta perkiraan intelijen jangka panjang (tersisa 10 tahun hingga 2030).

Pesan Prabowo sebagai hidden agenda, presiden yang akan datang harus orang kuat, karena akan terjadi konflik di Timor Leste yang menyebabkan Indonesia bubar pada 2030, yang lebih ekstrim bila dibaca yang tersirat, presiden sebaiknya dari militer. Sedangkan, dari analisis tokoh Amin Rais yang terus menyerang Jokowi melalui kelemahan substantif.

Boleh jadi Prabowo akan memilih mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai capres dan Anies sebagai cawapres.

Gatot sebagai mantan Panglima TNI sudah populer dan memiliki elektabilitas, sering melakukan safari politik sejak lama dan terus membangun hubungan dengan kelompok muslim di segala lapisan. Di samping itu Gatot secara terbuka menyebutkan bahwa sahabatnya yaitu salah satu konglomerat Tomy Winata.

Di samping itu, Anies sebagai cawapres diharapkannya akan mampu menarik para konstituen kaum muda Islam. Sebagai keturunan etnis Arab yang sama seperti etnis China yang disebut kelas dua di masa kolonial, Anies masih bisa berkiprah dalam dunia politik di Indonesia karena tidak ada persoalan dengan agama. (Sumber: Dbs)

 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus