“Politik Senyap”, Mungkinkah Anies Baswedan Jadi Capres 2019?


“Politik Senyap”, Mungkinkah Anies Baswedan Jadi Capres 2019?

Apa sih di dunia ini yang tidak mungkin?. Semuanya serba mungkin. Gerak gerik Anies Baswedan selama ini patut diduga sedang berusaha melakukan pendekatan berbagai pihak agar dirinya ‘diminati’ untuk menjadi calon presiden 2019. Branding yang terlihat dekat serta akrab dengan tokoh dunia seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberikan pesan bahwa dirinya memang bisa disejajarkan dengan tokoh tersebut.

Anies Baswedan terkesan memilih melakukan pendekatan diam-diam (politik senyap) kepada berbagai pihak yang punya pengaruh terhadap kondisi politik Tanah Air.  Pihak itu bisa dari luar negeri dan juga bisa dalam negeri, berbagai macam ormas, para konglomerat, tokoh agama, tokoh LSM, dan sebagainya. Jelas negara tetangga dan negara sahabat juga didekati melalui saluran resmi maupun saluran tidak resmi atau kombinasi dari saluran tersebut.

Sosok Anies sepertinya selalu beruntung secara politik, meskipun tanpa dibesarkan melalui lingkungan kaderisasi parpol. Sebelum tiba-tiba dipilih Prabowo menjadi cagub DKI Jakarta, Anies merupakan ‘jebolan’ tim sukses pemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Karier Anies semakin mulus ketika dirinya ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi menteri pendidikan, walaupun tak bertahan lama, akibat terdampak reshuffle kabinet pada 2016 yang lalu.

Terdepak dari kabinet Jokowi, karier Anies bukan meredup, dirinya malah dilirik dan semakin diperhitungkan oleh berbagai kekuatan politik. Lagi-lagi, ini keberuntungan politik seakan menjadi ‘takdir’ Anies yang di saat-saat terakhir (injury time) penentuan kandidat cagub DKI, dirinya malah dipilih Prabowo menjadi cagub mendampingi cawagub Sandiaga dan menang telak atas pasangan Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta.

Menjadi gubernur DKI Jakarta, sepertinya membuka akses lebih luas untuk meniti karier politik lebih jauh. Tak perlu harus berpikir atau konsisten soal masa kerjanya yang lima tahun, Anies kini mulai berhitung ulang soal ketokohannya yang berpeluang masuk dalam radar pilpres.

Mengingat Jokowi pun pernah melakukan hal yang sama, tak perlu harus menunggu tugasnya selesai sebagai gubernur Jakarta, karena elektabilitasnya yang tiba-tiba melesat, terbukti sukses mengantarkan dirinya ke kursi kepresidenan. Bukan hal yang mustahil bagi Anies tak ingin ketinggalan momen terpenting dalam sejarah hidupnya. Ketika elektabilitasnya mulai menanjak dan kesempatan nyapres terbuka lebar, dirinya akan tetap diperhitungkan parpol, entah menjadi capres atau cawapres.

Tak hanya itu, Anies mempunyai peluang yang besar di Pilpres kali ini, bukan saja karena ketokohannya secara profesional yang dinilai cerdas, namun juga santun dan merakyat. Dari sisi usia juga tampak lebih muda dibanding sekian kandidat yang ramai disodorkan berdasar ekspektasi publik. Penerimaan publik terhadap Anies juga cenderung ‘netral’, berbeda dengan kandidat capres atau cawapres lainnya yang selalu menyisakan pertentangan. Karena itu, prinsip netralitas itu penting terlebih sebagi kandidat yang akan menjadi pemimpin negara.

Meski jalan menuju kekuasaan harus melalui mekanisme dukungan parpol, namun aspek netralitas akan sedikit menghilangkan kesan politis dan kecurigaan masyarakat yang pada akhirnya, menempatkan seorang pemimpin negara hanya sebatas petugas partai dan bukan pemimpin yang secara netral milik rakyat.

Banyak sekali berbagai kemungkinan yang akan terjadi di ajang Pipres 2019 mendatang, terutama prediksi soal Prabowo yang mungkin saja menjadi ‘King Maker” dan memilih capres dan cawapres yang lebih layak untuk bertarung di ajang kontestasi.

Sementara, klaim Gerindra yang segera akan mendeklarasaikan Prabowo sebagai capres belum tentu sepenuhnya bisa dibuktikan, karena sejauh ini soal siapa cawapresnya masih belum disepakati koalisi dan posisi kekuatan Gerindra-PKS harus terlebih dahulu mendapat limpahan dukungan dari parpol lainnya, jika ingin pendeklarasian capres sesuai dengan aturan 20 persen presidential treshold (PT).

Prediksi terkait siapa kandidat yang dapat diterima oleh semua pihak untuk mendampingi Prabowo merupakan satu hal, dan membentuk koalisi parpol untuk memenuhi kuota PT 20 persen adalah hal lain, keduanya harus terpenuhi dalam waktu dekat ini.

Di tengah mencuatnya prediksi Anies menjadi pendamping Prabowo yang tampak menguat, ada kandidat lain sebenarnya yang mencoba mencari peluang dan mungkin saja sudah masuk dalam daftar 15 orang kandidat cawapres yang digodok Gerindra. Nama Gatot Nurmantyo cukup potensial untuk berpasangan dengan Anies Baswedan, jika pada akhirnya Prabowo lebih memilih menjadi ‘King Maker’.

Meski begitu, keberadaan Gatot juga pasti akan mendapat ganjalan dari unsur koalisi parpol yang sedianya mendukung pencapresan Prabowo. Gatot juga sama dengan Anies, bukan berasal dari kader partai, tapi memiliki semangat dan ambisi yang kuat untuk memberikan nuansa dan harapan baru bagi Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia politik, termasuk Anies-Gatot yang mungkin saja berpeluang berpasangan dalam Pilpres kali ini.

Banyaknya kekurangan stok pemimpin yang matang hasil kaderisasi internal parpol, membuat mereka harus menerima dan menghitung ulang kader di luar parpol yang secara elektabilitas politik jauh lebih memungkinkan dan berpeluang. Elektabilitas hasil lembaga survei tetap menjadi patokan berbagai kekuatan politik dalam menghitung peluang-peluang siapapun yang pada akhirnya akan diusung sebagai kandidat politik bagi mereka.

Anies memang telah masuk dalam radar Pilpres 2019 dan cukup berpeluang jika dipasangkan dengan Prabowo, walaupun tak menutup kemungkinan bahwa bisa saja dirinya nyapres karena menggantikan posisi Prabowo. Jika benar kemudian Prabowo tidak mencalonkan diri, kemungkinan besar pasangan Anies-Gatot berpeluang untuk menjadi penantang terkuat Jokowi di Pilpres nanti, kita lihat saja ya guys beberapa bulan ke depan, apakah Anies Baswedan menjadi Capres 2019………………

Post a Comments
blog comments powered by Disqus