Sektor Andalan Tahun 2018


Sektor Andalan Tahun 2018

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memproyeksikan subsektor yang akan memacu pertumbuhan manufaktur nasional di tahun 2018, yaitu industri baja dan otomotif, elektronika, kimia, farmasi, serta makanan dan minuman dimana subsektor tersebut diharapkan mampu mencapai target pertumbuhan industri pengolahan non-migas yang telah ditetapkan sebesar 5,67 persen pada tahun 2018.

Airlangga Hartarto meyakini sektor manufaktur masih menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Diantaranya melalui peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor. 

Peningkatan nilai tambah di tahun 2015-2017 ini dilakukan oleh industri berbasis agro dan tambang mineral yang menghasilkan berbagai produk hilir seperti turunan kelapa sawit dan stainless steel yang meningkat menjadi 154 produk sepanjang tahun 2015-2017 dibanding tahun 2014 sekitar 126 produk.

Selain itu industri smelter terintegrasi dengan produk turunannya berupa stainless steel yang memiliki kapasitas dua juta ton per tahun jumlah ini naik dibanding dengan tahun 2014 yang hanya mencapai 65 ribu ton produk setengah jadi berupa feronikel dan nickel matte.

Mengenai penyerapan tenaga kerja, Kemenperin memprediksi total tenaga kerja yang terserap di sektor manufaktur pada 2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 15,54 juta orang. Capaian ini mendorong pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia yang cukup signifikan.

Saling berkolaborasi
Menperin menyatakan, pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait saling berkolaborasi untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik investasi di sektor industri Tanah Air. Langkah strategis yang dilakukan, antara lain melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif dan kepastian hukum, penggunaan teknologi terkini untuk mendorong peningkatan mutu, efisiensi dan produktivitas, serta pemberian fasilitas berupa insentif fiskal.

Menurut Airlangga, masih terdapat hambatan yang perlu diantisipasi ke depannya. Salah satunya adalah penetapan tarif bea masuk di beberapa negara untuk produk-produk industri dari Indonesia dimana masih terdapat sejumlah perjanjian kerja sama ekonomi yang belum disepakati, diantaranya dengan Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. 

Dalam jangka panjang, Airlangga menambahkan, pihaknya akan terus mendorong industri dalam negeri untuk berinovasi sehingga mampu bersaing di kancah global. Sejalan dengan itu, dalam jangka menengah, Kemenperin sedang menyiapkan SDM industri yang kompeten melalui program pendidikan yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan dan industri.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus