Memantik Teror, Memanen Ketakutan


Memantik Teror, Memanen Ketakutan

Berawal dari pengianiayaan terhadap Kiai Basri alias Ceng Emon pada 27 Januari 2018 di Cicalengka, dilanjut dengan penganiayaan terhadap Ustaz Prawoto, Komandan Brigadir Persatuan Islam, di Cigondewah Kidul lima hari kemudian. Kejadiannya berbeda, latar belakang korbannya pun berbeda, tetapi pelakunya didiagnosa dengan satu kesamaan: punya penyakit kejiwaan. Kejadian tersebut kemudian disusul oleh rumor penculikan tokoh agama di Cimahi, rumor penganiayaan santri di Garut, rumor penganiayaan terhadap Ustaz Sulaiman, rumor penganiayaan Ustaz di Cikancung Kab. Bandung, serta rumor orang yang mabuk lem aibon mencari ustaz. Walau sudah ketahuan hoax-nya, rumor-rumor tersebut mau tidak mau berhasil memantik teror di tengah masyarakat.

Ketika bermalam di pedalaman Bogor dalam perjalanan ziarah ke makam kaket buyut saya mendapati cerita bahwa ada seorang ustaz di kampung tersebut yang sekarang berpakaian ‘ala preman’ karena takut disasar sebagai target. Salah seorang yang ikut dalam perjalanan itu menimpali bahwa di sekitar tempat ia tinggal di Kab. Bandung, di tiang listrik dekat sebuah pesantren ada tulisan ‘T3’ yang menurutnya, konon berdasarkan penjelasan kepolisian, berarti: target nomor 3. Di Tasikmalaya sejumlah ulama berkumpul karena mendapati beberapa ponpes dan rumah kiai ditandai X. Ini, ujar Aminudin Bustomi, Sekretaris MUI Tasikmalaya, adalah indikasi penyerangan terhadap simbol Islam (pesantren dan kiai) (Heri, Tribun Jabar 14 Februari 2018).

Di kampung halaman saya sendiri, isu penyerangan ulama ini amat gencar. Sebagian tersebar di sosial media, dikunyah lahap tanpa klarifikasi dan kontestasi. Sebagian lagi dari mulut ke mulut. Salah seorang kiai bahkan mewajibkan jadwal ronda kepada santri, khusus untuk menjaga rumah beliau. Tagline ‘PKI Merajalela’ berkibar seiring dengan ‘terciduk’-nya orang-orang gila yang dipersekusi, diinterogasi, dipaksa mengaku sebagai PKI yang sedang mengintai ulama. Sebentar, kenapa mereka harus diminta mengaku sebagai PKI? Karena, isu yang dibangun adalah bahwa penyerangan dan penganiayaan yang terlihat acak ini pasti dilakukan oleh PKI—terlepas dari apakah ada buktinya ataukah tidak. Pokoknya, pasti oleh PKI.

Kenapa harus PKI? Karena dalam realm berpikir sebagian dari kita, PKI sama dengan musuh Islam, komunisme sama dengan bahaya laten yang mengancam nyawa para ulama. Yang di-recall adalah memori penculikan dan pembunuhan terhadap kiai-kiai. Sehingga, begitu ada kejadian penganiayaan terhadap ulama, masyarakat menebak-nebak (atau diset agar mengira-ngira) bahwa pola kejadian ini memang ‘signature’-nya PKI. Apalagi, ide tentang kebangkitan PKI telah beberapa tahun ini didengungkan kembali. Setidaknya, sejak Pilpres 2014.

Tujuannya boleh jadi politis, walau politik mungkin bukan satu-satunya tujuan. Hanya, kita tahu bahwa Indonesia sedang digegap-gempitai konservativisme dan politisasi Islam, dan dalam meraih simpati dan suara umat, keduanya butuh musuh bersama. Syiah pernah (dan masih) diset sebagai musuh bersama, tetapi kita tidak punya narasi kesejarahan yang konfliktual dengan Syiah (setidaknya, tidak separah di Timteng). Sedangkan dengan PKI, kita punya masa lalu yang masih abu-abu—apalagi mempertimbangkan minat baca yang rendah.

Geliat itu dimobilisasi sedemikian rupa, sehingga kita mendapati September tahun lalu film G 30 S versi Orba diputar kembali. Presiden seperti tidak punya ‘cara lain’ selain berkompromi dan ikut menonton. Tidak semua pihak ngeh soal perlunya menonton versi lain dari kejadian 1965. Belum lagi isu uang kertas baru yang berlogo palu arit. Dan sejalan dengan itu, Pemerintah dituduh pro asing, pro-China. Hoax lain yang menyusul, misalnya, bagaimana pekerja dari China masuk dengan mudah sedangkan rakyat Indonesia masih banyak yang menganggur.

Hari ini, isu PKI dijalin-kelindankan dengan memori kelam pembantaian kiai di masa lalu. Dan penjalin-kelindanan ini kemudian dijahit dengan wacana-wacana lain yang sejak lama dikampanyekan, misalnya, wacana ‘selamatkan ulama’, ‘bela Islam’, dan lawan ‘kriminalisasi ulama’. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) memang menunjukkan bahwa mereka yang percaya PKI bangkit terutama berasal dari kalangan pro-Prabowo. Tetapi, terlepas dari apakah pemantikan teror dan pemobilisasian ketakutan ini memang dilakukan oleh mereka atau tidak, yang jelas, pada akhirnya ini memunculkan mosi tidak percaya terhadap pemerintah.

Seolah pemerintah hanya diam saja ketika ulama dipersekusi. Seolah pemerintah tidak peduli pada ulama, sehingga umat (dibimbing oleh FPI) harus melakukan perlindungan sendiri—juga perlawanan kalau bisa. Apalagi, Presiden sendiri disokong PDI-P. Dan PDI-P, dituduh sebagai reinkarnasi PKI. Sayangnya, ini bukan satu-satunya dampak. Persekusi salah sasaran juga jadi efek samping yang lumayan mencemaskan. Di Pandeglang, Banten, misalnya, seorang pasien Rumah Sakit Jiwa Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa dipersekusi atas tuduhan hendak membunuh KH. Encep Muhaemin dan dianggap sebagai PKI. Di Cileungsi, Bogor, seorang gila dan tunawisma dari Pemalang dipersekusi 6 orang dengan tuduhan yang sama.

Konsekuensinya dapat lebih besar, tentu saja, mengingat kita menghadapi hajat Pilkada massal tahun ini dan Pilpres tahun depan. Dalam pada itu, politisasi agama masih menjadi komoditas primadona; sedang politik identitas terasa makin menantang kodrat kebhinekaan kita yang sepertinya rapuh. Ia rapuh karena sejak lama keberagaman ini coba diseragamkan sedang diskusi SARA dianggap tabu. Alhasil, kita sadar kita berbeda, tetapi kita tidak tahu dalam hal apa kita bisa menyikapi perbedaan tersebut, let alone mensinergikannya.

Pada akhirnya, selain mendorong sikap menahan diri dari setiap orang untuk tidak main hakim sendiri, hal-hal yang diperlukan lainnya adalah sikap ber-tabayyun. Literasi media perlu ditingkatkan. Menimbang potensi chaos yang ada, adalah penting bagi para pemilik power (baik itu ulama, pemerintah, maupun tokoh publik) untuk memastikan kejadian-kejadian ini diselesaikan, dan masyarakat dapat diajak tetap tenang. Jika tidak, rumor akan semakin berkembang dan ide-ide konspiratif semakin menjalar. Jika sudah begitu, sedikit teror dipantik, ketakutan dapat dipanen.

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: http://harianriau.co/mobile/detailberita/20525/video-orang-gila-diduga-begal-ulama-dihakimi-massa

Post a Comments
blog comments powered by Disqus