Mo Salah dan Komunikasi Dakwah


Mo Salah dan Komunikasi Dakwah

Ketika Mo Salah tampil cemerlang di sepanjang musim dengan mengemas lebih dari 40 gol di semua kompetisi dan membawa Liverpool ‘kembali’ ke partai final Piala Champions, fans Liverpool merasa perlu untuk mengabadikan dan menyanjung idolanya tersebut dengan chants yang menggelitik. Yaitu jika Mo Salah mencetak gol lagi, mereka tak berkeberatan menjadi Muslim. Boleh jadi lirik tersebut hanya ekspresi gombal yang tidak bersifat harfiah, tetapi kemudian banyak orang yang setuju bahwa apa yang dilakukan Mo Salah adalah dakwah. Melalui kakinya—dan bukan mulut atau tangannya—Mo Salah mempertontonkan sisi Islam yang substantif: kerendahhatian, budi pekerti, persistensi, dan kerja keras.

Dengan itu pula Mo Salah mendapatkan pengakuan, penghargaan, baik dalam kapasitasnya sebagai pesepakbola maupun dalam kapasitasnya sebagai seorang Muslim, seorang manusia, seorang Mesir yang memberi kontribusi positif bagi keislamannya, bagi kemanusiaan kita, bagi sikap mental dan moral Mesir dan orang-orangnya. Dalam konteks yang terakhir: profesinya sebagai pesepakbola menjadi jembatan bagi Mo Salah (disadari atau tidak, diniatkan atau tidak) untuk mengemban misi dakwah. Mo Salah, dengan demikian, adalah seorang pendakwah.

Jika kita setuju argumentasi tersebut—bahwa Mo Salah adalah seorang pendakwah tanpa peci, surban, jubah—maka kita harus mendefinisikan (ulang) pemahaman (sempit) kita soal dakwah. Bahwa selama ini, dakwah selalu identik dengan ustaz yang berdiri di panggung dan menyampaikan doktrin-doktrin keislaman baik secara serius maupun santai. Dakwah juga kerap diidentikkan dengan guru mengaji yang rela tidak dibayar atau dibayar serendah hamba sahaya di masa lalu. Bahwa pendakwah adalah mereka yang mendakwahkan Islam walau ayatan—dan ditafsirkan sebagai: ayat al-Quran atau kutipan hadits.

Kecenderungan tersebut, dalam satu dan lain hal, dipengaruhi oleh pengklasifikasian ilmu versi Imam Abu Hamid al-Ghazali. Bahwa ilmu, menurut beliau, dibagi ke dalam dua kategori: Ilmu Agama dan Ilmu Non-Agama. Yang berkonsekuensi pada: pembobotan yang berbeda tidak hanya kepada kedua disiplin ilmu tersebut, tetapi juga kepada orang yang menguasainya. Mereka yang menguasai ilmu agama disebut ulama, dan diyakini memiliki derajat lebih tinggi ketimbang, katakanlah, dokter, walaupun dokter juga adalah ulama (expert) di bidang kedokteran.

Oleh sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diaplikasikan dan disebarluaskan, maka ‘dakwah’ menjadi krusial. Tetapi walaupun masing-masing kita berdakwah sesuai dengan kapasitas kita masing-masing (Mo Salah melalui sepak bola, dokter dengan keahliannya menyelamatkan nyawa orang, guru dengan tupoksinya sebagai pendidik), label dakwah hanya kita sematkan pada proses transfer ilmu yang kita labeli sebagai ‘ilmu agama’. Misalnya: orang berceramah tentang annadhofatu minal iman akan disebut berdakwah, tetapi seorang bule yang membersihkan sungai dari sampah plastik tidak dianggap sebagai dakwah. Padahal, yang pertama berdakwah dengan ucapan, yang kedua berdakwah dengan perbuatan.

Tapi bukan hanya itu ‘kekeliruan’ kita mengenai dakwah. Kekeliruan lain berhubungan dengan bagaimana dakwah tersebut dikomunikasikan. Sebelum masuk ke sana, mari kita ulas sejenak definisi dakwah. Dakwah bermakna ajakan, seruan, anjuran. Kata Nabi, bisa dengan ucapan atau perbuatan. Dalam banyak hal, bisa dimanifestasi dalam dua kategori: amal makruf nahi mungkar, mengajak pada yang benar, mencegah pada yang batil.

Sayangnya, proses penerjemahan dakwah bil hal, dakwah dengan tindakan/tangan, apalagi dikaitkan dengan nahi mungkar, kadang (atau malah sering?) diwujudkan dalam tindakan kekerasan. Memukul orang, misalnya, atau menggerebek warung yang buka di Bulan Ramadhan. Pertannyaanya kemudian: seberapa efektif perbuatan/pendekatan tersebut dalam menginspirasi objek-dakwah untuk mengikuti apa yang didakwahkan? Ketika seorang ‘pendosa’ diolok-olok dan/atau dipermalukan di depan banyak orang, dalam rangka nahi mungkar atau amar makruf, kira-kira apakah dia bakal terdorong untuk bertaubat? Mungkin tidak.

Ada ‘praduga bersalah’ yang digunakan, yang berarti komunikasi dakwah kita terindikasi dipilari semangat ‘rasa diri paling benar’ sehingga cenderung judgemental. Akibatnya, komunikasi yang dibangun tidak ahsan, tidak lagi menggunakan kata-kata baik, sehingga buah dari dakwah menjadi lekat dengan aroganitas dan nalar kekerasan. Kalau kiai/ustad kita terindikasi dihina, ramai-ramai kita intimidasi dan persekusi orangnya. Kalau mau ada tabligh akbar, bergegas kita konvoi tanpa helm, kibarkan bendera ormas, merasa jadi penguasa jalanan. Shalat dan ngaji kita, pada akhirnya makin sering, tapi kepekaan sosial sebagai wujud implementasi kesalehan transendental tidak terwujud optimal.

Itu sebabnya orang menjadi takut pada kata ‘syariah’, walau para pendakwah selalu meyakinkan orang-orang bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. Bahwa pengimplementasian hukum Islam akan membumikan keadilan, kesetaraan, dan kebahagiaan. Orang menjadi takut karena bagaimana bisa syariah membumikan keadilan, kesetaraan, dan kebahagiaan, sedangkan cara yang ditempuh oleh para propagandisnya lekat dengan kata-kata kasar dan kekerasan; teror dan intoleransi.

Pada titik itulah dakwah yang dikomunikasikan oleh Mo Salah, tidak hanya di Eropa melainkan dunia, menjadi instrumental. Bahwa ia mengingatkan kembali kita bahwa dakwah tidak sesempit ceramah satu-arah yang doktriner, bahwa komunikasi dakwah, lagi-lagi, sesungguhnya harus billati hiya ahsan. Bukan dengan makian, praduga bersalah, dan semangat menghakimi orang lain sebagai lebih nerakawi ketimbang kita. Bahwa dakwah dengan perbuatan yang lebih efektif ternyata bukan dengan persekusi melainkan mendisiplikan diri menjadi role model, suri tauladan yang baik. Dengan sepak bola, Mo Salah telah menemukan ‘kemuhammadan’-nya.

Mo Salah boleh jadi tidak pernah mengutip ayat suci atau mempertontonkan ibadahnya di sosial media, tetapi tingkah polah di dalam dan di luar lapangan terbukti menginspirasi, merepresentasikan substansi (atau nur) Islam itu sendiri. Sedekah yang ia sembunyikan tercium juga wanginya; bikin hati menangis haru. Itulah yang kemudian mempersuasi orang untuk tertarik pada Islam—atau untuk melihat keindahan dari Islam. Dan persuasilah sesungguhnya, sifat yang hilang dalam komunikasi dakwah Islam kita hari ini. Terima kasih Mo Salah, tapi saya belum akan berpindah ke Liverpool. Tidak juga besok lusa.

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Sumber gambar: https://www.forbes.com/sites/bobbymcmahon/2018/02/25/piers-morgan-takes-a-kicking-on-twitter-after-upping-the-ante-with-opinion-on-mo-salah/#5952e7484ae3

 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus