Thanos, Tolstoy, dan Ibrahim


Thanos, Tolstoy, dan Ibrahim

Adalah ending-nya yang unik (atau mengecewakan?) yang turut membuat Avengers: Infinity War tidak pernah selesai diperbincangkan. Alih-alih dimenangkan para Avengers,  perang tersebut ternyata dimenangkan oleh Thanos yang terbangun di suatu pagi di sebuah gubuk menghadap ke susuran sawah (di Bali?). Separuh populasi lenyap secara acak demi memenuhi kebenaran yang diyakini dan dilayani oleh Thanos: genosida sebagai mercy. Dan Anda, sebagaimana saya, mungkin masih berharap ending tersebut bukan sebetul-betulnya ending.

Dan untuk itu kita boleh berharap kepada Dr. Strange. Sebelum ikutan lenyap, Dr. Strange bilang kepada Tony Stark yang tidak jadi menikah bahwa, “Semuanya memang harus seperti ini.” Yang mungkin menjadi clue sekuel lanjutan di mana realita yang menjadi ending di film ini siapa tahu adalah salah satu lapis realitas-waktu yang dimanipuasi Si Tukang Sihir dengan jubahnya yang setia itu. Apalagi sebelumnya Dr. Strange bilang bahwa ada satu peluang alternatif-masa depan di mana Thanos berhasil dikalahkan. Mungkinkah ending yang ini?

Setidak-tidaknya, itulah (salah satu) penghiburan yang  bisa kita lakukan ketika kita kecewa karena kebaikan ternyata dikalahkan oleh kejahatan. Protagonis betapapun sudah berjamaah, kalah oleh kemanunggalan kekuatan jahat Thanos. Padahal biasanya, dalam film superheroes, seberapa hebatpun kejahatan sang jahat, dia pasti dikalahkan juga. Voldemort, misalnya, ternyata kalah oleh penyihir nyaris drop out dari Hogwarts, yang bahkan bukan yang terkuat.

Tetapi tentu saja kemenangan Thanos seperti menegaskan kepada kita ‘realitas’ yang, katakanlah, lebih riil di dunia nyata. Bahwa kebaikan memang tidak selalu menang atas kejahatan. Kalau kita menengok ke politik, misalnya, kita tahu bahwa skema ‘house of cards’ ala Frank Underwood bukan isapan jempol. Jika merujuk Noam Chomsky, kita tahu betapa kecarut-marutan dunia disebabkan oleh sekelompok kecil pemegang ‘kekuasan’ politik dan ekonomi yang mengendalikan dunia untuk melayani keinginan-keinginan mereka.

Belum lagi, di kehidupan nyata, kolaborasi para antagonis biasanya lebih scalable dan terstruktur ketimbang jamaah-jamaah kecil para protagonis yang berjalan sendiri-sendiri dalam kebaikannya. Belum mengutuh menjadi ‘satu tubuh’, sehingga isu kepada yang satu tidak selalu menjadi isu kepada yang lain; sehingga penghancuran kepada yang satu tidak selalu merupakan/dianggap pelemahan terhadap yang lain.

Itu jika kita meyakini bahwa Thanos-lah sang antagonis. Tetapi, bagaimana jika, Thanos sesungguhnya adalah tokoh protagonis yang tersalahpahami? Bagaimana jika para Avengers-lah yang sebetulnya termasuk orang-orang ‘bodoh yang tidak mengerti’? Hanya saja, kita kadung dibikin percaya bahwa para Avengers-lah para pahlawan kebenaran itu. Kita tidak pernah lagi mempertanyakannya. Alhasil, Thanos yang datang dengan ide berbeda, secara alamiah terlihat sebagai si gila—the madman.  

Tetapi kalau dipikir-pikir, bukankah situasi demikian ‘mirip’ dengan situasi para Nabi di awal-awal perjuangan mereka membumikan spiritualitas? Di mana mereka dianggap orang gila yang berpotensi merusak tatanan ‘stabil’ di masyarakat? Menurut Anda, ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail dalam rangka melayani Maha Benar yang beliau yakini, tidakkah secara kasat mata Nabi Ibrahim terlihat seperti seorang barbar, the madman? Bukankah beliau bisa di-framing sebagai orang jahat?

Saya tidak sedang membenarkan pendekatan ‘genosida demi keseimbangan semesta’ ala Thanos. Saya hanya  sekadar ingin memperlihatkan betapa kita dihadapkan pada paradoks Kebenaran. Bahwa terlepas dari keyakinan kita bahwa ada Kebenaran Absolut, masing-masing kita mengerti bahwa pemahaman dan pengetahuan kita akan-Nya serba terbatas (illa qoliil, kalau kata  Allah dalam al-Qur’an). Muncullah kemudian kebenaran-kebenaran relatif yang kita yakini, kita layani, yang tidak selalu selaras dan seragam satu sama lain.

Di sisi lain, Tuhan dalam iradah-Nya memilih untuk ‘menahan diri’ dan membiarkan sunah-Nya berjalan. Kalau dalam bahasanya Leo Tolstoy: Tuhan Maha Tahu Tetapi Memilih Menunggu. Beliau membiarkan kita berdialektika dengan ruang, waktu, dan situasi. Kita dibiarkan berjibaku, jatuh-bangun dalam struggle dan suffering untuk hidup dan menghidupi kehidupan. Situasi ini, ditambah dengan ketidakselarasan pemahaman kita akan Kebenaran dan Kebaikan itulah yang kadang membawa kita pada sejumlah pertengkaran, konflik, darah, dan air mata. Konflik Thanos dan Avengers sesungguhnyalah berpondasi pelayanan dan kesetiaan mereka pada kebenaran yang masing-masing mereka yakini.  

Tetapi bahkan jika ternyata Thanos-lah sesungguhnya yang antagonis itu, film ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah dan potensi kebaikan, cinta-kasih. Gamora membantu kita menyadari percik-kebaikan itu di diri Thanos. Thanos tampil demikian ‘manusiawi’ walau mungkin dia bukan manusia. Thanos mungkin adalah monster paling bejat tetapi Anda mesti ingat ketika dia bilang, “Gamora, kamu pembohong yang payah karena aku tidak pernah mengajarimu berbohong.” Dalam konteks itu Thanos menjelma moralis jempolan.

Itu sebabnya tidak mungkin bagi kita mempolarisasi manusia ke dalam spektrum hitam-putih; setan versus Allah. Manusia senantiasa ada di spektrum antara; dinamis dalam setiap geraknya. Itu sebabnya akan selalu ada kebaikan bahkan pada diri orang yang kita anggap paling buruk sebagaimana akan selalu ada keburukan pada orang-orang yang kita anggap paling dan pasti baik. Lalu kenapa atas alasan dan kecenderungan politik kita merasa berhak mencemooh  yang berbeda sebagai kecebong atau kampret, seolah mereka less than human?

Konsekuensi lain dari situasi tersebut berhubungan dengan pengorbanan. Karena pencarian, struggle, dan keberjibakuan kita pada akhirnya senantiasa dihadapkan pada finite choices: keterbatasan pilihan. Kita akan selalu dihadapkan pada situasi di mana kita ‘terpaksa’ mengorbankan (seperti Ibrahim) maupun dikorbankan/mengorbankan diri (sebagaimana Ismail). Semuanya demi kesetiaan akan Kebenaran yang diyakini. Demi kesetiaan akan tujuan yang ingin dicapai.

Demi ‘batu jiwa’ Thanos mesti merasakan posisi ‘Ibrahim’ dengan Gamora sebagai ‘Ismail’-nya. Demi alam semesta Vision rela diismailkan oleh Scarlet Witch, kekasihnya. Tetapi kemudian baik Thanos maupun Scarlet Witch mengerti bahwa selama ini, merekalah sesungguhnya yang menjadi Ismail. Merekalah yang berkurban sekaligus dikurbankan demi apa yang mereka yakini sebagai Kebenaran.

 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

Source gambar: https://www.forbes.com/sites/insertcoin/2018/05/01/thanos-avengers-infinity-war-master-plan-doesnt-make-very-much-sense/ 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus